Memulai bisnis sendiri tidak sesulit seperti yang kita dengar. Pemilik usaha kecil maupun besar dimulai dengan satu hal, tekad. Dari tekad yang bulat, benar-benar diniatkan memulai bisnis, maka akan datang ide bisnis. Ini berarti kita telah mengambil langkah besar pertama untuk memulai bisnis kita sendiri, meskipun tidak bisa dipungkiri, ide yang kita dapatkan belum tentu ide yang bagus yang memiliki prospek cerah dikemudian hari. Tak perlu berkecil hati. Ide tidak sepenuhnya menentukan sukses atau tidaknya bisnis kita di kemudian hari. Buktinya, kita kadang menemukan bisnis yang sangat sukses padahal jika dipikir-pikir, bisnis tersebut terkesan kurang menjanjikan. Sebagai contoh, bisnis warung kopi atau warung susu. Secara logika, rasanya tidak mungkin ada orang yang mau membeli kopi atau susu di warung (cafe) yang harganya berlipat-lipat dibandingkan kita membuat kopi sendiri di rumah yang bisa jadi rasanya tidak jauh berbeda. Namun yang terjadi adalah, warung kopi tidak sepi pengunjung. Jadi menurut saya, ide seburuk apapun jika kita mampu mengelolanya dengan baik akan menjadi bisnis yang menjanjikan.
Lalu kapankah kita seharusnya memulai bisnis kita? Jawabannya adalah: mulailah sekarang juga. Kebanyakan orang berpikir bahwa sudah terlambat untuk memulai bisnis. Ada juga yang berpikir akan memulainya nanti. Ini adalah pemikiran yang salah. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Juga jangan menunda-nundanya, karena satu kali ditunda, kita akan cenderung terus menunda. Jika sudah demikian, rencana bisnis kita tidak akan berjalan. Mulailah sekarang juga. Seperti yang pernah diungkapkan Drs. Mohammad Idris P., M.M. dalam kuliah kewirausahaan yang pernah saya ikuti, ketika memulai bisnis, jangan terlalu diperhitungkan keuntungan yang didapat. Pokoknya jalani saja dulu. Untung ataupun rugi (secara finansial) kita akan tetap untung. Sekalipun secara finansial kita rugi, sebenarnya kita untung dari segi pengalaman. Dari kerugian tersebut, kita bisa mengambil pelajaran sehingga di kemudian hari kita tidak mengalaminya kembali baik jika kita meneruskan bisnis kita yang rugi tersebut ataupun berganti bisnis lain. Belajar berbisnis bisa dianalogikan dengan belajar bersepeda. Agar mahir bersepeda, tentu tidak cukup dengan membaca teori. Kita juga harus belajar bagaimana mengatasi rasa sakit ketika kita jatuh dan berusaha bangkit lagi untuk berusaha lebih baik lagi hingga pada suatu saat kita bisa dengan lancar mengayuh sepeda kita sekalipun jalan yang kita lalui berkelok-kelok.

No comments:
Post a Comment